Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Sangat Diperlukan di Dunia Kerja

Beranda > Artikel > Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Sangat Diperlukan di Dunia Kerja

Oleh: Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unkartur, Dra Helena IR Agustien MA PhD

Zaman sekarang bahasa dipandang sebagai hard skill terutama dalam kaitannya dengan profisiensi bahasa asing. Dalam pengertian ini, seseorang belajar bahasa asing akan mendapatkan sertifikat ataupun nilai yang bisa dikuantifikasi dari usaha yang keras. Hal itulah yang mendasari dibukanya program studi (Prodi) Pendidikan bahasa Inggris di Universitas Nasional Karangturi (Unkartur) Semarang.

Menurut Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unkartur, Dra Helena IR Agustien MA PhD, Pendidikan bahasa Inggris ini merupakan Prodi yang sangat diperlukan dalam dunia kerja. Prodi Pendidikan bahasa Inggris dinilai merupakan hardskill yang bisa dicapai melalui pembelajaran di dalam kelas. “Jadi prodi Pendidikan bahasa Inggris ini adalah Prodi yang juga merupakan hardskill yang sekarang itu sangat diperlukan di dalam dunia kerja. Maka dari itu pemahaman terhadap hardskill itu menjadi penting. Dia diperoleh dari pendidikan formal dan sudah bukan soft skill lagi. Kalau soft skill kadang-kadang berdasarkan personality orangnya, itu hal-hal yang sifatnya subjektif. Sementara belajar bahasa asing itu objektif,” ungkapnya belum lama ini.

Helena menjelaskan, jika pengajaran bahasa Inggris melalui Pendidikan bahasa Inggris ini dipandang sebagai hard skill, maka banyak aspek yang perlu dikuasai mahasiswa. Aspek tersebut di antaranya pengetahuan, skill, sikap, dan lainnya. Semua itu dikembangkan ke dalam kurikulum pembelajaran. “Itu kami terjemahkan di dalam kirikulum kami. Pengetahuan jelas seperti grammar, vocabulary, lingustik, dan fonetik. Itu mau tidak mau harus dipelajari, karena itu hard skill,” sebutnya.

Lantas bagaimana dengan keterampilan? Helena menilai, pengetahuan tersebut bermuara kepada keterampilan berbahasa seperti berbicara, membaca, dan menulis. Tentu, kata dia, keterampilan tersebut tidak bisa dilangsungkan tanpa knowledge atau pengetahuan itu tadi. Sementara membangun sikap diartikan sebagai kerja keras. Menurutnya, hanya orang-orang yang bekerja bekerja keraslah yang dapat betul-betul atau berhasil mengelola keterampilan itu dengan baik.

“Berhasil dalam arti mampu menggunakan bahasa itu sebagaimana yang dikehendaki menjadi multilingual. Jadi tujuan utama kami adalah membentuk masyarakat multilingual,” terangnya. Menurut Helena, multilingualisme kini sangat dibutuhkan terlebih di dunia kerja. Banyak lapangan kerja yang saat ini membutuhkan hardskill melalui keterampilan berbahasa asing. Seseorang dianggap akan menemukan kesulitan jika tidak menjadi multilingual. Oleh karena itu, ia memandang, belajar bahasa Inggris haruslah dipelajari. “Kalau kita lihat anak-anak muda yang hebat membuat aplikasi dan sebagainya itu mereka minimal mampu berbahasa Inggris secara pasif.

Oleh karena itu sudah ada identifikasi lapangan kerja apa yang akan didukung oleh lulusan kami,” terangnya. Lantas Helena memaparkan, ada sekian lapangan kerja yang dapat menjadi prospek bagi lulusan Pendidikan bahasa Inggris. Di antaranya sebagai penerjemah dan juru bahasa, hospitality manager, HRD, guru bahasa Inggris, jurnalis, pemandu wisata, dan lainnya.

“Penerjemah itu akan menjadi bahasa Inggris khusus yang akan kami kembangkan di sini dan lapangan kerja yang cukup berkembang itu pada 10 tahun mendatang. Perkembangan kebutuhan terhadap transleter dan interpreter sekitar 17 persen goalsnya. Bahkan mereka meminta penerjemah dari bahasa Jawa juga. Perkembangan ya cukup pesat dan ini menjadi Makul juga. Kemudian hospitality manager, itu karena mereka harus berhubunhan dengan orang berbagai negara maka yang harus bekerja di sana adalah orang yang multilingual. Di Uni Eropa ada 3,3 juta orang yang bekerja di area ini. Jadi kami juga ingin turut mengembangkan hospitality di Indonesia. Kemudian menjadi seorang spesialis HRD. Merekrut orang dan sebagainya, itu akan menggunakan keragaman kemampuan berbahasa orang-orang di sebuah institusi. Akan menarik jika sebuah institusi itu memiliki staf yang mampu berbahasa asing.

Kemudian juga pramugari, diprioritaskan adalah orang-orang multilingual. Kemudian terutama kami menciptatakan guru bahasa Inggris. Guru itu bisa wiraswasta, bekerja. Itu yang utama sekali. Kemudian penulis dan jurnalis. Seorang jurnalis jika hanya menguasai Satu bahasa pasti akan kurang kemampuannya, karena harus menyerap informasi dari berbagai bahasa. Lalu yang juga penting adalah untuk perawat. Perawat Indonesia bagus-bagus, tapi sampai di Singapura kesulitan karena mereka bukan bilingual. Gaji mereka hanya 600 dolar perbulan sementara kalau mereka di klinik atau rumah sakit pertama kali masuk sudah bisa 3000 dolar. Perawat kita kalah dari Filipina karena perawat-perawat di Filipina bahasa Inggrisnya lancar.

Gelarnya sama tapi kita tidak bisa karena itu mereka juga harus dibuat multilingual. Kami juga kerjasama dengan Stikes Telogorejo untuk memulai membuat mereka bilingual. Kemudian marketing manager, social worker, kemudian kemajuan teknologi. Ini adalah bidang-bidang yang kami fokuskan. Jadi Pendidikan bahasa Inggris bukan hanya guru tapi juga orang-orang yang siap terjun di dunia Kerja dalam bidang-bidang tadi. Tentu masih banyak bidang lain seperti penulis buku dan lainnya. Saya kira kami perlu membantu di sana. Termasuk pemandu wisata, YouTuber, peneliti, kalau tidak ada bahasa Inggris audiensinya terbatas. Kami sedang menembak bidang-bidang itu agar prodi kami relevan,” tukasnya. (idy)


Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Sangat Diperlukan di Dunia Kerja, Ini Kata Dekan FKIP Unkartur, https://jateng.tribunnews.com/2020/05/18/prodi-pendidikan-bahasa-inggris-sangat-diperlukan-di-dunia-kerja-ini-kata-dekan-fkip-unkartur?page=3.
Penulis: Idayatul Rohmah
Editor: muh radlis

Leave a Reply

1 × four =