Dealing with Insecurity

Beranda > Artikel > Dealing with Insecurity

Pernah merasa takut untuk bertanya atau menyampaikan pendapat? Merasa ragu-ragu untuk sekedar bertanya atau menjawab pertanyaan dari dosen atau guru? 

Pernah merasa bahwa hidup saya tidak lebih beruntung dari orang lain? Pernah merasa bahwa saya tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan? Pernah merasa tidak seganteng dan secantik orang lain? Sering membandingkan kelemahan diri sendiri dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain?

Beberapa kali mungkin kita pernah bertemu dengan orang yang mudah sekali membandingkan kondisi dirinya dengan keberhasilan yang dicapai oleh orang lain. Bahkan jangan-jangan hal itu juga terjadi pada diri kita. Kita sering membandingkan apa yang tidak bisa kita lakukan, namun mampu dilakukan orang lain, dan ujungnya membuat kita merasa INSECURE.

Insecure adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas atau kemampuan diri sendiri.

Apa sih sebetulnya yang membuat seseorang merasa insecure?

Banyak hal yang membuat seseorang merasa insecure, mungkin alasan satu orang dengan yang lain, bisa jadi akan berbeda. Beberapa dari mereka merasa insecure karena fisik, karena alasan latar belakang ekonomi, latar belakang pendidikan, atau bahkan insecure karena alasan status sosial.

Sebetulnya tidak ada orang di dunia ini yang akan merasa secure sepenuhnya, sekalipun mereka yang sudah bisa dikatakan berhasil, sukses, mapan,bahkan diidolakan banyak orang. Ada masa dimana mereka juga pernah merasa insecure. Merasa insecure sangat wajar dialami oleh seseorang. Ketika kita merasa insecure, sebetulnya kita sedang merasa bahwa ada hal yang membuat diri kita tidak aman dan tidak nyaman.

Biasanya insecurity terbentuk karena proses belajar secara sadar maupun tidak yang dialami seseorang dari beberapa kejadian atau pengalaman-pengalaman hidup tidak menyenangkan yang biasanya muncul di awal kehidupan. Ketika dewasa, seseorang akan mengadopsi dan menginternalisasi pola pemikiran negatif tersebut yang ia yakini benar.

Misalnya pengalaman seseorang yang pernah mengalami bullying saat SD/ SMP karena fisik “dasar jelek, badan gendut, kulit hitam gosong”. Hal ini akan membuatnya memiliki standar kecantikan atau ketampanan fisik ideal, yaitu mereka yang tidak gendut, dan memiliki kulit putih. Akhirnya pada saat dewasa, ia tidak merasa aman dan nyaman ketika dirinya tidak memenuhi standar ideal yang ia yakini tersebut. Muncul ketakutan akan dihina, takut akan direndahkan kembali oleh lingkungannya. Pengalaman masa lalu pada akhirnya menjadi sumbangan besar penyebab seseorang merasa insecure.

Apa yang bisa dilakukan ketika saat ini ada salah satu pembaca artikel ini yang merasa insecure?

Pertama, kita perlu mencoba bertanya kepada diri sendiri, misalnya, “Apa sih sebenarnya yang aku takutkan ketika harus ngomong di depan umum?” Setelah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, coba untuk menuliskannya di notes.

Kemudian berlanjut ke pertanyaan berikutnya, “Apa yang bisa aku lakuin supaya aku gak takut lagi?” Seperti sebelumnya, maka tuliskan jawabannya. Setelah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, langkah terakhir adalah “ACTION”. Setelah kita mampu mengidentifikasi penyebab ketakutan yang muncul dalam diri kita, maka lakukan solusi tersebut. Kedua, sebaiknya meminimalisir untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Semakin sering kita compare diri dengan orang lain, maka kita akan terlihat semakin jauh tertinggal dari orang lain.

Oleh: Auliya Ulil Irsyadiyah SPsi MPsi Psikolog – Dosen S1 Psikologi Unkartur Semarang

Leave a Reply

17 − twelve =