Alihkan Energi “Kreak” Lewat Olahraga: Mahasiswa Sistem Informasi UNKARTUR Raih Prestasi di Ajang Nasional Esai Djarum Foundation

Beranda > Berita Kampus > Alihkan Energi “Kreak” Lewat Olahraga: Mahasiswa Sistem Informasi UNKARTUR Raih Prestasi di Ajang Nasional Esai Djarum Foundation

SEMARANG, 28 OKTOBER 2026 – Sebuah torehan prestasi membanggakan kembali diraih oleh generasi muda kota Semarang. Christopher William Piri, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi angkatan 2023 Universitas Nasional Karangturi (UNKARTUR), sukses mengharumkan nama almamaternya di kancah nasional.

Mahasiswa yang juga merupakan penerima beasiswa Djarum Foundation (Beswan Djarum Angkatan 41) ini berhasil menyabet gelar Juara Regional Essay Contest yang diselenggarakan oleh Djarum Foundation. Tak berhenti di situ, gagasan brilian yang dibawanya kembali diuji di tingkat nasional hingga berhasil mengantarkannya melangkah sebagai Finalis Essay Contest Djarum Foundation.

Mengurai Akar Masalah “Kreak” di Kota Semarang

Dalam esai ilmiahnya, William mengangkat isu sosiologis yang tengah hangat dan meresahkan warga Semarang, yakni maraknya fenomena kreak—aksi kekerasan jalanan yang melibatkan kelompok remaja.

Fenomena ini telah menanamkan trauma kolektif yang mendalam di tengah masyarakat. Berdasarkan data survei sosiologis terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Majemuk (2025), sebanyak 90,3% masyarakat mengenali ancaman fenomena ini, dan 42% responden mengaku bahwa keberadaan kreak secara signifikan menghancurkan rasa aman mereka sehari-hari. Kota Semarang dinilai sedang mengalami krisis empati, di mana jalanan malam tak lagi menjadi ruang publik yang aman dan demokratis, melainkan berubah menyerupai zona konflik.

Melalui proses riset dan pendataan lanjutan yang tengah diupayakan William salah satunya melalui audiensi dengan pihak SPKT Polrestabes Semarang ia mengidentifikasi bahwa fenomena ini terbagi menjadi dua kategori utama:

  1. Kreak Destruktif Pelajar: Kelompok remaja/pelajar yang cenderung berbuat onar namun masih memiliki potensi besar untuk dibimbing dan diarahkan.
  2. Kreak Kriminalitas: Kelompok dengan tingkat tindakan pelanggaran hukum yang jauh lebih berat dan parah.

Menurut William, di balik tindakan brutal tersebut terdapat realitas sosiologis yang tak boleh diabaikan: mereka adalah anak-anak terpinggirkan yang kehilangan arah dan mencari validasi akibat kegagalan sistem sosial. Oleh karena itu, mengandalkan hukuman pidana semata tidak akan cukup untuk mencabut akar krisis hingga tuntas.

Pendekatan SBYD: Mengubah Energi Destruktif Menjadi Prestasi

Sebagai solusi nyata, William menawarkan gagasan transformasi sosial berbasis pendekatan Sport-Based Youth Development (SBYD). Pendekatan ini bertujuan menyalurkan energi agresif dan destruktif para pemuda ke dalam wadah olahraga yang terstruktur, terukur, dan berkarakter.

Manifestasi konkret dari gagasan luhur ini diwujudkan melalui kampanye #antikreak serta penyelenggaraan event tinju amatir bertajuk “GACOR: Rookie Rumble” di Semarang. Purwarupa solusi sosiologis ini diinisiasi langsung oleh William melalui kolaborasi komunitas UK Beyond Limits MMA Community bersama No Limits Training Facility.

“Saya meyakini bahwa wadah olahraga yang inklusif tidak hanya melucuti senjata dari genggaman mereka, tetapi juga mampu menyelamatkan masa depan generasi bangsa dari jurang keputusasaan,” tegas Christopher William Piri.

Harapan untuk Masa Depan Kota Semarang

Melalui karya esai dan aksi nyatanya, William berharap ekosistem olahraga berkarakter yang dibangun dapat terus berkembang. Langkah ini diharapkan mampu mengakhiri teror kekerasan jalanan sekaligus menghapus stigma negatif Kota Semarang sebagai “Kota Kreak”, menggantikannya dengan iklim kota yang aman, berempati, dan berprestasi.