“Positive Mental Health untuk Mewujudkan Well-Being”

Beranda > Artikel > “Positive Mental Health untuk Mewujudkan Well-Being”
11

Oleh : Priscilla Titis Indiarti, S.Psi., M.Si 

PANDEMIi covid 19 sampai hari ini memang belum bisa diprediksi (unpredictable) sampai kapan akan berakhir atau mungkin sudah melampaui kapasitas (overloading) untuk dapat menghadapi dan mampu bertahan. Situasi ini beresiko muncul stres, cemas, tidak bahagia, tidak sejahtera, dan sakit secara fisik karena imunitas tubuh juga mengalami penurunan.

Individu pasti mendambakan kondisi yang sehat baik fisik maupun mentalnya seperti rasa bahagia dan sejahtera melalui berbagai usaha untuk dapat mewujudkannya. Kesehatan mental perlu dianggap sama pentingnya seperti kesehatan fisik karena akan mempengaruhi dalam menyadari potensi dirinya, mengatasi tekanan/tantangan hidup, cara berpikir, berelasi dengan orang lain sehingga dapat melakukan aktivitas kehidupan secara produktif di tengah masyarakat.

Kesehatan mental berbicara tentang positive mental health yaitu upaya mempelajari dan mengetahui pendekatan maupun intervensi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan dan memperoleh kesejahteraan (well-being). Individu yang memiliki kesehatan mental positif akan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya baik secara fisik, emosi, intelektual, spiritual, dan intrapersonal. Selain itu juga individu akan memiliki resiliensi/tangguh dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan dan menyesuaikan diri dengan tepat sehingga akan dapat menunjukkan kesejahteraan dan merasakan kebahagiaan.

American Psychological Association (APA) mendefinisikan well-being sebagai keadaan yang memiliki rasa bahagia, kepuasan, tingkat stres yang rendah, sehat secara fisik dan mental serta menjaga kualitas hidup yang baik. Individu yang memiliki well-being tinggi menjaga kesehatan mental dan fisik agar mampu mengatasi tantangan, mencapai kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya. Well-being berkaitan dengan positive mental health juga sebagai berfungsinya secara optimal aspek fisik, sosio emosional, spiritual, kognitif yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya dimana individu hidup, bekerja, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Well-being merupakan keadaan yang terbentuk dari pengalaman, fungsi individu yang optimal dan merupakan outcomes melalui sebuah proses kerja keras dan usaha dalam mewujudkannya.

Di Indonesia terdapat penelitian indigenous untuk mengkaji fenomena well-being namun dalam konteks masyarakat setempat. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan dikonstruksikan masyarakat Indonesia sebagai rasa kekeluargaan, prestasi/pencapaian diri, relasi sosial, dan kebutuhan spiritual sebagai nilai yang harmoni/kerukunan dengan lingkungan sosial (Anggoro & Widhiarso, 2010). Program Studi Psikologi Universitas Nasional Karangturi juga sedang mengembangkan tentang fenomena well-being yang ada di masyarakat saat ini.

Upaya untuk membantu mengelola positive mental health dapat dilakukan berupa teknik mengelola diri secara positif, perubahan gaya hidup positif, mencari dukungan positif dari teman, menjaga kesehatan fisik, dan melakukan aktivitas yang positif. Selain itu, dasar dari well-being dan positive mental health berupa kebersyukuran (gratitude) dalam arti rasa syukur atas segala sesuatu yang telah atau belum diperoleh sehingga akan meningkatkan kebahagiaan saat ini dan harapan di masa yang akan datang (Witvliet, Richie, Luna, & Tongeren, 2018).

Cara sederhananya dengan memperbanyak rasa syukur pada Tuhan dengan berkat yang sudah diterima dan mengekspresikan rasa syukur melalui menerima keadaan apapun saat ini, terus berbuat baik kepada siapapun, mengampuni orang lain, dan fokus pada hidup yang dijalani saat ini. Marilah kita mengupayakan kesehatan mental positif supaya dapat mewujudkan keadaan sejahtera dan bahagia dalam menghadapi masa pandemi covid 19 ini.

Leave a Reply

13 − ten =