Keluarga Sebagai Kontributor dalam Membangun Resiliensi Saat Pandemi

Beranda > Artikel > Keluarga Sebagai Kontributor dalam Membangun Resiliensi Saat Pandemi

Oleh : Puspita Puji Rahayu, S.Psi., M.Si. – Dosen S1 Psikologi Universitas Nasional Karangturi Semarang

Selama pandemi Covid-19, bukan hanya kesehatan fisik yang terdampak, melainkan juga kesehatan mental. Semakin banyak varian virus yang bermunculan misalnya SARS CoV 2, Alpha, Beta, Gamma, Delta, Lambda, Kappa, Eta, Lota Mu sampai pada Omicron. Penularan infeksi varian baru, memungkinkan ancaman gelombang ketiga kini di depan mata. Masyarakat mulai cemas dan waswas. Jumlah orang yang terinfeksi mutasi terbaru virus omicron ini terus bertambah.

Apakah kita hanya dapat berdiam diri dan terus tenggelam dalam keputusasaan? Tentu tidak, untuk bangkit dan membangun kembali kepercayaan diri kita dan beradaptasi dengan keadaan, maka kita butuh kemampuan untuk resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengatasi tantangan hidupnya dengan tetap mempertahankan kesejahteraan indibidu tersebut. Kita dapat perlahan membangun resiliensi dengan bantuan dari keluarga.

Resiliensi dalam keluarga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu resiliensi individual dan resilensi kolektif dalam keluarga (Theiss, 2018). Terdapat dua pandangan mengenai resiliensi individual yang didukung oleh keluarga. Pandangan pertama adalah resiliensi sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya. Sebagai seorang anak, dapat belajar mengatur emosi dengan benar sehingga dapat menciptakan resiliensi. Pandangan kedua adalah resiliensi ditentukan oleh komunikasi dari orang tua, sehingga orang tua yang berkomunikasi suportif, instruktif dan responsive dapat mendorong anak untuk memiliki resiliensi. Dari kedua pandangan itu dapat disimpulkan bahwa relasi dan komunikasi dengan orang tua dapat membantu mendorong dalam membangun kemampuan resiliensi di masa sulit seperti pandemi saat ini.

Lalu bagaimana hubungan dengan saudara kita? Penelitian mencatat bahwa hubungan yang suportif dengan saudara dapat membangun resiliensi sebagai arena of comfort. Area of comfort yaituhubungan interpersonal suportif yang meningkatkan kemampuan untuk mengatasi masalah yang ada. Sehingga, seluruh anggota keluarga dapat berperan dalam membangun resiliensi individu.

Selain resiliensi individual ada resiliensi kolektif dalam keluarga. Resiliensi kolektif berarti resiliensi independent antar anggota keluarga. Cara untuk membangu kemampuan ini dengan mengethaui identitas dan sejarah dari keluarga tersebut (Theiss, 2018). Dengan demikian, keluarga dapat merekonstruksi identitas diri dan mengorganisasikan ulang kehidupan sehingga dapat bangkit dari masa sulit. Selain cara tersebut, keluarga dapat melakukan communal coping, dimana keluarga menganggap bahwa suatu masalah dari salah satu anggota keluarga adalah masalah bersama sehingga keluarga dapat mencoba menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Kunci utama dari membangun resiliensi adalah komunikasi yang baik dan efektif didalam keluarga.

Leave a Reply

18 − three =