“5G Mempercepat Digitalisasi”

Beranda > Artikel > “5G Mempercepat Digitalisasi”

Oleh : Cristeddy Asa Bakti ST., M.Kom

Kaprodi S1 Sistem Informasi Unkartur Semarang

PANDEMI virus corona yang dimulai sejak bulan Februari 2020 sedikit banyak memberi pelajaran bagi umat manusia dalam mengubah pola hidup masyarakat . Jika sebelumnya kurang begitu memperhatikan aspek kesehatan sekarang mulai dilatih disiplin untuk menjaganya bahkan diwajibkan melakukan sesuai protokol kesehatan yang sudah dicanangkan pemerintah.

Begitu pula dalam aspek bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pertemuan ataupun kegiatan yang sifatnya tatap muka “terpaksa” diganti menjadi daring di dunia maya. Masyarakat mau tidak mau dipaksa untuk masuk dan ikut dalam percepatan digitalisasi.

Digitalisasi sering kita dengar bahkan juga sehari-hari kita gunakan. Pada hakekatnya digitalisasi adalah proses perubahan menjadi bentuk digital (angka). Perangkat dan peralatan pun banyak yang mengalami proses digitalisasi misalnya speedometer kendaraan keluaran terbaru banyak yang sudah mengaplikasikan speedometer digital daripada konvensional yang berbentuk jarum.

Sektor komunikasipun sudah sejak lama berproses lebih lagi ke arah pemanfaatan data digital. Laju digitalisasi memang sudah tidak terbendung tetapi pertanyaannya sudah siapkan kita menerimanya dan menjadi bagian evolusi tersebut?

Di tahun 2021 yang mana sering disebut era milenial ini masih banyak permasalahan yang menjadi kendala, salah satunya adalah infrastruktur komunikasi. Pertukaran data antar pengguna sekarang cenderung ukurannya bertambah besar.

Data yang dikirim pun tidak hanya teks, gambar tetapi sudah berupa video yang menuntut kapasitas penggunaan memori yang besar. Untuk itulah penyedia layanan operator jaringan berlomba-lomba menghadirkan layanan komunikasi yang cepat dalam bentuk jaringan 5G.

Tidak hanya itu saja jika operator sudah menyediakan  “jalan raya”  mulus maka pengguna pun harus menyediakan “mobil” yang bisa memanfaatkan secara maksimal dalam bentuk ponsel yang kompatibel dengan jaringan 5G tersebut.

Sebetulnya apakah yang dimaksud dengan 5G itu ?? jika ada 5G lalu apa dan kapan 1G, 2G,3 G dan 4G?? Jaringan internet di Indonesia diawali menggunakan konektivitas. Itulah yang disebut sebagai generasi pertama atau 1G (bagi angkatan milineal tentunya pernah merasakan bagaimana bermain internet dengan mencabut kabel telepon kemudian menyambungkan ke komputer).

Kecepatan internet pada 1G masih sangat lambat berkisar 56 Kbps dan itupun dengan biaya sangat mahal karena tarifnya berdasarkan waktu. Generasi kedua (2G) diawali dengan kehadiran ASDL (Asymmetric Digital Subscriber Line), kemudian karena kebutuhan akan pertukaran data meningkat muncul GPRS (General Packet Radio Service)/2.5G, EDGE (Enhance Data Rate for GSM Evolution). Kecepatan transfer data meningkat di 2G berkisar antara 256 Kbps hingga 384 Kbps.

Generasi ketiga (3G) ditandai dengan kehadiran jaringan GSM (Global System for Mobile Communication), CDMA (Code-division multiple access) yang kemudian berevolusi menjadi EVDO (Evolution Data Optimized) dan HSDPA (High Speed Downlink Packet Access)/ 3.5G. Pada generasi ini mulai terjadi evolusi pengiriman data dari yang sebelumnya hanya berwujud teks dan gambar sekarang berubah menjadi berbagai macam file multimedia karena didukung dengan kecepatan transfer hingga 7.2 Mbps.

Generasi ke-4 (4G) LTE / Long Term Evolution sudah mengadopsi pita lebar yang berdampak pada kecepatan akses data hingga 72 Mbps. Generasi selanjutnya adalah 5G yang merupakan lompatan besar dalam sejarah kecepatan jaringan nirkabel karana 10 hingga 100 kali lebih cepat dari jaringan 4G saat ini.

Dengan kemampuan seperti itu maka bisa memicu kebiasaan ataupun pola hidup yang sebelumnya belum pernah terbayangkan sebelumnya. Misalkan mengunduh video dengan kualitas full HD atau bahkan  4K dalam beberapa detik saja , atau bahkan bisa diaplikasikan ke dalam virtual reality dan sistem cerdas lainnya.

Majunya teknologi tanpa diimbangi kemampuan memanfaatkannya akan serasa sia-sia. Ibaratnya seperti mengendarai mobil balap di tengah kemacetan lalu lintas, mobil tersebut tidak pernah dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Singkat kata mari kita memaksimalkan potensi yang ada dan teknologi yang sudah mulai “mengintip” akan “membanjiri” kehidupan sehari-hari. Bersiaplah memanfaatkan data semaksimal mungkin.

Leave a Reply

eight − 1 =